My Current Favorite Blushes

Beauty, Review

Halo, gengs!

Belakangan ini, aku lagi suka banget pake blush-on, apalagi style blush-on yang ‘nyebrang’ pipi-hidung-pipi. I’m sure you know what I mean!

Nah, aku punya dua produk blush-on powder yang jadi favoritku dan aku pakai sehari-hari ataupun acara tertentu.

  • JORDANA BLUSH POWDER 

Aku pakai shade 48 Pink Beauty. Sebelumnya aku pakai produk ini karena baca rekomendasi dari Beauty Vlogger, Abel Cantika. Aku beli blush-on ini dari online shop langganan, Beautyhaulindo.

Aku juga baca rekomendasi dan review dari beberapa beuaty vlogger dan blogger lain. Ada yang bilang bahwa produk ini pigemented banget, tapi menurutku nggak kok. Pigmentasinya pas, mudah untuk diaplikasikan lagi sampai kamu dapat warna yang kamu mau. Mudah sekali untuk dibaur. Dan yang paling penting, blush-on ini tahan lama, untuk jenis kulit aku yang kombinasi-berminyak, produk ini tahan sekitar tujuh sampai delapan jam. Tekstur powder-nya juga halus banget.

Shade yang aku pakai, warnanya lebih ke pink muda dan matte.

Kalau warna di tempatnya seakan-akan warnanya pink banget, tapi setelah diaplikasikan ke pipi, kamu akan dapat warna pink muda yang cantik.

Jordana blush powder ini punya banyak shades, pink ke orange, dan hasilnya juga ada yang matte, pearls, atau shimmer. Kamu bisa pilih warna dan hasilnya sesuai dengan keinginan kamu.

  • EMINA CHEEKLIT PRESSED BLUSH

Berikutnya, favoritku adalah produk Indonesia. Emina cheeklit pressed blush, Marshmallow Lady. Kalau shade yang ini lebih ke warna oranye dengan hasil yang shimmery. Tapi nggak terlalu shimmery, kok. Bahkan, aku masih suka tambah highlighter diatasnya untuk glow yang maksimal.

Aku suka blush powder ini karena dia juga tahan lama dan warnanya pas banget untuk memberikan rona pada wajah. Dengan shimmer-nya, blush ini bikin wajah kamu terlihat lebih segar dan sehat.

Teksturnya lebih powdery dan pigmentasinya juga bagus. Harus hati-hati kalau mau mengaplikasikan, pastikan untuk tap brush kamu untuk mengurangi kelebihan powder yang nempel di brush. Kalau untuk aku, jarang banget pakai blush ini berulang untuk tambah warna, karena sekali ambil biasanya langsung keliatan warnanya.

Produk ini juga cukup tahan lama, sekitar lima sampai enam jam. Warnanya hanya memudar sedikit.

 

Jadi itulah review tentang dua produk blush powder favoritku. Oiya, kedua produk diatas harganya nggak lebih dari 50.000 ya, gengs!

Semoga bermanfaat!

Advertisements

Obrolan Senin

Journals

Kali ini aku mau share pengalamanku soal emosi dan muridku, waktu aku mengajar di sekolah anak usia dini / TK.

Aku mengikuti anak ini dari dia umur tiga tahun. Awalnya aku sempat khawatir karena, biasanya aku melihat anak usia tiga tahun itu expresif, mencoba banyak bicara, atau mengungkapkan emosinya dengan banyak cara. Tapi anak ini, dia pendiam, suaranya halus hampir tidak terdengar, dan dia mengungkapkan perasaan apapun dengan menangis atau tertawa. Ketika dia marah, ya dia menangis, ketika dia takut, dia nangis juga. Dan dia lebih tenang kalau diminta menggambar. Paling suka kalau dibawa ke tempat yang tidak terlalu ramai, dan diberi pelukan.

Sampai akhirnya dia umur 4 tahun, naik kelas, semakin banyak yang bisa dia lakukan untuk mengeskpresikan perasaannya. Dan ketika marah, dia mulai berteriak dan melempar barang. Dan cara seperti itu yang tidak diinginkan semua orang.

Anak belajar mengenal emosi, mengelola emosinya, dan akhirnya bisa mengerti emosi yang orang lain rasakan. Pernyataan itu aku dapatkan dari buku Not So Perfect Mom, tulisan Rosdiana Setyaningrum.

Jujur, butuh waktu yang panjang untuk kami (aku dan partner) membantu muridku untuk bisa mengelola emosinya. Butuh waktu yang panjang juga untuk aku bisa terus bekerja sama dengan orang tuanya supaya ada sinkronisasi antara metode di sekolah dan di rumah. Berterimakasih sekali, pihak orang tua mau mendiskusikan dan mencari sumber lain selain guru, untuk mendapat pengetahuan lebih dalam memahami anaknya. 

Yang aku bisa bilang sama orang tuanya waktu itu, ya jujur, bahwa sebenarnya hal ini bisa banget terjadi sekarang, karena muridku mengalami masa ekstrim, dulu sangat pendiam, sekarang sangat ekspresif. Tapi punya kesamaan, ekspresif untuk mengungkapkan perasaan ke arah negatif, dulu menangis tanpa kendali, dan sekarang marah tanpa kendali. 

Yang perlu digarisbawahi menurutku, nggak ada yang salah dengan ekspresi anak-anak. Yang perlu diarahkan adalah cara mengelolanya, disitu dia belajar. Contohnya, ketika muridku marah dan mulai melempar barang, dia harus tau bahwa itu tindakan berbahaya yang bisa merugikan orang lain.

Untuk anak umur empat tahun, dia sudah bisa diajak berdiskusi, bagaimana kalau aku marah, dan aku melempar barang kepada kamu? Kamu senang atau sedih? Senang atau sakit?

Di periode ini, muridku berusaha keras untuk mengontrol dirinya ketika merasa kecewa, marah, sedih, senang, apapun jenis emosinya.

Sampai akhirnya muridku bisa bersikap lebih dewasa, lebih bisa mengontrol diri, dan menerima konsekuensi, ketika dia mau berumur lima tahun, naik kelas ke Kindergarten.

Periode itu, sangat menantang buat aku pribadi, juga dengan orang tuanya. Bagaimana aku harus jadi perantara dengan muridku dan orang tuanya. Berkomunikasi supaya aku sebagai guru bisa bekerja sma dengan orang tua, demi kebaikan anaknya. Yang lebih penting, berkomunikasi dengan anaknya, aku belajar memahami dia, dan dia belajat memahami lingkungan sekitar.

Aku bilang apa yang terjadi di kelas ketika dia marah, dan memang orang tuanya harus menerima. 

Yang aku suka dari sistem sekolah tempat mengajarku dulu adalah, guru dan orang tua punya waktu kira-kira 15 menit ketika “bagi raport” untum mendiskusikan progres anak. Dibahas tuntas, dari psikologis sampai akademis. Di luar waktu “bagi raport”, orang tua dan guru kelas juga punya waktu yang luang untuk berdiskusi, walaupun tidak seluang waktu “bagi raport”. Kami bisa berdiskusi mengenai solusi dan progresnya. 

Sekarang, ketika muridku mau naik ke Kindergarten, dia sudah lebih dewasa. Artinya, ketika dia marah, dia bilang, “I’m angry because…” Lalu biasanya dia meeremas tangannya dan menunjukan expresi marah lewat wajahnya. Hal itu jauh lebih baik daripada dia harus melempar barang atau berteriak sambil menangis.

Kalau sudah begitu, biasanya aku suka memberikan dia waktu sendiri. Aku meperbolehkan dia untuk main di tempat yang cenderung sepi, jauh dari teman-temannya, tapi masih dalam pengawasan.

Aku selalu bilang, “If you think that you feel better, you can come and join us.” Atau, biasanya aku juga menawarkan untuk menemani dia main. “Do you want to play with me? We can play over there.”

Anak-anak jarang mau bermain sendiri dalam waktu yang lama. Kalau dia sudah merasa cukup bermain sendiri, dia biasanya akan pergi ke tempat teman-temannya untuk bergabung. Dari situ juga dia belajar, bagaimana mengelola personal space agar tidak mengganggu orang lain dan juga dirinya sendiri.

Terhubung dengan pengalaman ini, aku mau mengucapkan terimakasih untuk muridku dan juga orang tuanya yang sudah bekerja sama. Kita sama-sama belajar mengelola emosi disini, ini adalah pelajaran yang berharga untuk pendewasaan kita semua, di level usia yang berbeda. 😂😂😂

Obrolan Teman : 1

Journals

Akhir-akhir ini pembicaraan aku dan beberapa temen selalu mengarah ke pernikahan dan jadi orang tua.

Sebagian besar pasangan menikah pengin jadi orang tua, walaupun beberapa masih takut kalau punya anak. Anak itu titipan, katanya. Dan karena kita dikasih titip, jadi harus dijaga baik-baik. Tapi bagaimana cara orang tua menjaga baik-baik anaknya, pasti beda-beda.

Waktu itu aku lagi ngobrol sama sahabatku. Kita bicara bahwa ketika merencanakan menikah, pasti harus ada rencana punya anak. Maksudnya, pengin punya anak atau nggak, kalau ingin punya anak maunya berapa, dan kapan pengennya punya anak.

Ada juga orang yang bilang, kita tidak boleh menunda punya anak, karena kalau menikah, hamil dan punya anak adalah konsekuensi. Kesannya konsekuensi itu negatif, ya?

Sementara, aku dan sahabatku berpikir bahwa anak itu anugerah. Makannya kita perlu waktu untuk menyiapkan. Paling penting menyiapkan mental dan pengetahuan sebagai orang tua. Walaupun jadi orang tua nggak ada sekolahnya, tapi belajar bukan hanya dari sekolah. Banyak buku, dari internet, banyak deh sumbernya.

Aku dan sahabatku sependapat bahwa kita perlu belajar dan evaluasi, bagaimana jadi ibu yang “benar” dan cerdas. Memperlakukan manusia, seperti layaknya manusia. Sederajat. Hanya beda peran.

Hakikatnya manusia tempatnya salah. Dari situ aku dan sahabatku berpendapat bahwa orang tua tidak selalu benar, dan anak tidak selalu salah. Disini, kita sama-sama belajar. Satu sisi belajar jadi orang tua, satu sisi belajar jadi anak.

Kakakku bilang, “Sekarang itu yang susah cari cewe yang pinter dan keibuan. Kalau pinter aja tapi ga keibuan ya beda, anaknya mau diapain. Tapi kalau keibuan dan ga pinter juga gimana nanti anaknya.”

Sahabatku bilang, “Pasti jadi orang tua itu perlu evaluasi. Aku nggak mau jadi kaya mama aku dari sisi bla bla bla… Walaupun aku masih menganggap ibu aku the best, deh.”

Sahabatku yang lain bilang lagi, “Justru aku nggak mau nikah dulu karena takut punya anak. Aku takut kalau punya anak, nanti aku kaya ibu aku.”

Dan aku juga bilang, “Harapan aku sama pacar aku, kalau punya anak tuh biar anaknya nggak nyesel punya kita sebagai orang tuanya. Walaupun kita banyak salah, tapi saling menghargai anak sama orang tua.”

Jadi Ibu, buatku, bukan hal main-main. Begitu juga dengan sahabat-sahabatku yang lain. Buat kami, perlu banget diskusi dengan pasangan, cerita sama sahabat, dan ngobrol sama orang tua masing-masing.

Ketika kita nggak siap ataupun nggak menyiapkan kalau punya anak, disitu juga kita dzalim sama mahluk Tuhan. Karena biasanya yang nggak siap itu hasilnya minim.

Bagaimana cara siapnya?

Ada beberapa kesimpulan yang aku tangkap dari diskusi aku dan sahabat-sahabatku:

  • Janjian sama pasangan. Apa visi misi keluarga. Berbagi job desc di dalam keluarga. Jadi ketika anak datang, dia juga tau job desc dia. Kan orang tua yang mengarahkan.
  • Kompak sama pasangan itu penting banget. Kalau kompak, mau ada pertanyaan, “Udah isi belum?” , “Kok ditunda?”, dan pertanyaan ujian lainnya, ya kalem aja sih. Kan kita yang punya rencana. Tuhan yanv memutuskan.
  • Menyelesaikan urusan kita dengan orang tua. Kalau ada uneg-uneg yang mau diutarakan, baiknya ya dikeluarin aja. Diajak ngobrol, dan sebagainya. Yang belajar ikhlas disini bukan cuma kita. Tapi orang tua. Kalau kita ikhlas, udah lega, kita lebih siap nerima hal baru. Termasuk punya anak.

Doa kami

Journals

Bismillahirrahmanirrahim..

Untuk malam yang kedinginan, aku berdoa padaMu untuk mendatangkan yang hangat bagi tidur kami

Untuk hari-hari yang penuh godaan, aku berdoa padaMu kiranya Engkau memberi kami keyakinan agar tetap teguh melihat kuasaMu

Untuk segala niat yang kami ucapkan hanya atas namaMu, aku berdoa, pada dzat yang Maha Mengetahui niat kami, pada dzat yang lebih dekat dari urat nadi kami, pada dzat yang Maha Besar melebihi apa yang ada di bumi dan di langit, kami memohon ketulusanmu untuk menerima segala ibadah kami. Agar benar. Agar tersampaikan tujuan kami. Hanya kepadaMu.

Sesungguhnya kami adalah hamba yang berserah hanya kepadaMu saja. Bahwa kuasaMu tiada lain adalah berkah bagi kami.

Allah…

Pelajaran Menghargai

Journals

Mungkin sudah jadi hal biasa untuk orang-orang asia, masalah yang dialami adalah soal menghargai. 

Waktu itu ada diskusi di sekolah yang membahas bedanya budaya Asia dan budaya Barat. Perbedaannya ada di perilaku menghargai. Kalau budaya Barat lebih suka pendekatan apresiasi, sementara budaya Asia seperti gengsi untuk mengapresiasi. Dan memang rasanya benar juga.

Perilaku ini terjadi turun-temurun, membentuk pola, dan akhirnya terus terjadi tanpa putus karena bagian dari kebiasaan hidup. Soal menghargai.

Pertama, menurut saya ini masalah yang biasa dilihat kecil, tapi jika dibiarkan, ini akan jadi sesuatu yang besar.

Suatu hari, salah satu murid saya ingin membawa buah apel yang sudah dipotong tanpa dikupas. Biasanya, dia membawa buah apel yang sudah dikupas setiap hari, namun pagi itu, dia sampai nangis ingin mengganti apel yang sudah dibawanya ke sekolah dengan apel yang masih ada kulitnya, karena melihat pengasuhnya memakan satu potong apel tanpa mengupas kulitnya.

Dia menangis dan menuntut pengasuhnya untuk mengganti apel yang sudah dia bawa. Mengganti dengan yang baru, sudah dipotong namun tidak dikupas.

Saya dan partner menganjurkan pengasuhnya untuk berlaku biasa saja. Dalam artian, anak ini sudah sampai sekolah, tidak usah membawa apel yang baru, biar kita yang membujuk anak ini.

Saya pribadi merasa jengkel, karena pada akhirnya, pengasuhnya tetap membawakan apel yang baru. Jadi, dia membeli apel yang baru di toko buah terdekat demi memenuhi permintaan murid saya.

Mungkin, dilihat secara sederhana, ada yang merasa kasihan dengan murid saya. Sama seperti yang pengasuhnya rasakan. Jadi mau tidak mau, harus dibelikan yang baru, daripada tidak dimakan. Ujung-ujungnya malah membuang makanan.

Tapi saya dan partner saya merasa, hal ini berlebihan, dan anak ini harus belajar bagaimana cara menghargai orang lain. Membedakan keinginan dan kebutuhan. Lagi pula, dalam kehidupan nyata, tidak semua keinginan dapat dikabul begitu saja.

Lalu kami mengajak murid saya mengobrol. Membandingkan dua apel yang berbeda, dan memakan dua-duanya. Apa yang berbeda dari apel tersebut? Yang satu dikupas, yang satu dengan kulitnya. Apa persamaan dari apel tersebut? Sama-sama enak dimakan. Dan murid saya memakan dua apel yang berbeda, tapi tidak habis. Terlalu banyak dan terlalu kenyang. Akhirnya, dibuang lagi. Atau, disimpan dulu di tempat bekalnya. Mungkin dimakan lagi setelah sekolah.

Tapi terlepas dari habis atau tidaknya apel itu, ada orang yang sudah bangun pagi-pagi dan menyiapkan apel sampai dicuci bersih, dipotong rapi, dikupas kulitnya. Kemudian sampai di sekolah, orang tersebut mencari lagi apel lain dengan keadaan berbeda demi memenuhi permintaan murid saya. 

Dari situ saya tanya murid, “Bagaimana kalau kamu sudah membuat satu karya untuk saya, kemudian saya bilang, saya nggak mau, buatkan yang lain, saya tidak suka yang seperti ini. Kamu suka nggak?”

Dan murid saya menggeleng, “I feel sad if you say like that, I don’t want to make the new one.”

Dan saya bilang, “Ya sama, your nanny may feel hurt when you asked her to find another apple. While your nanny actually already prepared the other one. You said to me that the apples have the same taste. It means you like both, you ate some of them. So do you need to ask your nanny to buy another apple for you?”

He said no.

Ini salah satu contoh saja, masih ada yang lain lagi, dan mungkin diantara kalian semua juga memiliki cerita yang berbeda dalam soal menghargai-dihargai. 

Kenapa kalau menurut saya ini menjadi masalah serius, karena kebiasaan.

Sesuatu yang terus dibiasakan akan menjadi bagian dari pola hidup yang sulit diperbaiki. Daripada nanti lebih sulit diperbaiki, lebih baik dari sekarang kita biasakan. 

Di sekolah, saya selalu diajarkan untuk menggunakan kata “tolong” dan “terimakasih”. Ketika mereka mendengarkan, saya bisa bilang, “Thank you for listening to me.” Ketika saya minta tolong kepada murid saya untuk duduk, saya bisa bilang, “Thank you for sitting down on your place.” Dan itu lebih ampuh untuk menarik perhatian anak-anak lain untuk duduk lebih cepat, dibandingkan marah-marah.

Saya juga melihat senior saya di sekolah mengaplikasikan hal ini. Saya baru dalam dunia pendidikan, masih belajar untuk berlaku lebih baik lagi kepada murid-murid saya. 😊😊😊

Hello 2017!

Journals

Hello 2017, udah lama sekali aku nggak post apapun di blog ini. Mau ngucapin selamat tahun baru! Bagaimana dengan resolusi tahun ini? Sudah ada rencanakah?
Awal tahun ini, aku banyak dengar cerita tentang rencana hidup teman-teman aku. Ada yang mau berbisnis, ada yang mau menikah, ada yang mau sekolah lagi. Atau hanya melanjutkan hidup saja, tapi ingin travelling kemana-mana. Tapi banyak juga yang tanya soal, “Bagaimana realisasinya?” Terutama untuk perencanaan besar seperti menikah dan sekolah lagi.

Well, menikah bukan hanya sekedar nafsu. Dan sekolah juga bukan hanya sekedar menuntut ilmu. Life must go on to the next level, closer to your real goal, real dream

Aku merasa beruntung karena di akhir tingkat perkuliahan memilih kuliah yang namanya bimbingan karir (kurang lebih itu namanya). Waktu itu tugas akhir kuliahnya adalah merancang kehidupan sampai waktunya pensiun, di usia berapapun yang kamu mau sampai memutuskan untuk menikmati hidup, berhenti bekerja, menikmati masa tua. 

Banyak banget mahasiswa yang bingung, termasuk aku. Kita hanya tau cita-cita kita apa, tapi masih bingung tahap-tahap apa yang harus kita ambil supaya cita-cita kita tercapai. Itulah kenapa, sebelum tugas akhir itu diberikan, materi kuliah kita berkutat seputar teori karir, tes minat dan bakat, serba-serbi dunia pekerjaan, sampai menghadirkan pembicara yang berbagi soal caranya survive berkarir dengan pilihannya sendiri. 

Singkat cerita, saking bingungnya mahasiswa, kita semua punya beberapa kali sesi bimbingan supaya jalan menuju cita-cita kita itu cukup spesifik dan cukup real untuk dicapai. Bimbingan tersebut sudah termasuk mempertimbangkan risiko dan rencana cadangan kalau memang pada akhirnya tahap yang kita lakukan itu gagal. Karena pada kenyataannya, walaupun sudah direncanakan, kita tetep nggak taukan apa yang akan terjadi di masa depan? Yang kita bisa lakukan hanya prediksi.

Mungkin bingung kali ya kalau aku ceritakan seperti ini. Tapi cara ini bener-bener berguna dan aku pakai sampai sekarang, dua tahun pasca kelulusan.

Untuk mempermudah, aku gambar bagan perencanaan hidup. 

Pertama, ada baiknya kamu tau cita-cita kamu apa. Misalnya, aku mau jadi pebisnis. Banyak banget orang yang bilang sama aku mau jadi pebisnis, dan mereka belum tau mau bisnis apa. Berangkat dari hal yang kamu suka dulu deh. Biar menyenangkan.

Aku pribadi, mau juga jadi pebisnis di bidang pendidikan. Aku mau buka sekolah, spesifiknya pre-school & kindergarten. Kenapa? Karena aku suka anak-anak.

Maka dari itu, sewaktu kuliah, aku pilih psikologi pendidikan sebagai peminatan, magang di pre-school & kindergarten, sekarang juga bekerja di pre-school & kindergarten, akan berencana untuk mengambil magister di bidang pendidikan, dan bekerja lagi di bidang pendidikan sampai tabungan materi (finansial & pengetahuan) cukup untuk membangun sekolah.

Sebenarnya, bikin bagan seperti ini juga biasanya kita terapkan kalau lagi belajar sebelum ujian dulu. Untuk kalian yang masih jadi pelajar atau mahasiswa, mungkin sering pakai carai ini sebagai metode belajar. Nah, bagan ini juga sebaiknya diterapkan buat perencanaan hidup. Bukan hanya urusan akademis. Toh hidup juga belajarkan? Hanya beda konten.

Bagan ini juga disesuaikan sama metode belajar. Kalau lebih suka gambar atau lebih ke metode visual, biasanya lebih suka bikin mind map, sungai kehidupan, pohon kehidupan, dan lainnya yang kontennya itu digambar (jadi pakai simbol) kalau mau kuliah lagi simbolnya buku misalnya.

Nah, kalau aku termasuk metode belajar kinestetik. Aku suka nulis dan lebih suka bergerak. Apa yang aku pikirkan, akan aku tuangkan dalam tulisan. Kan menulis juga bergerak. Dulu juga waktu aku belajar semasa kuliah, aku akan buat rangkuman, padahal baca juga cukup, tapi akan lebih mengerti kalau aku menulis atau menjelaskan. Karena ketika aku menulis dan menjelaskan juga kan ada pergerakan. Intinya memang nggak bisa diem aja anaknya. 

Kalau kalian gimana? 

Dosenku dulu bilang, untuk mencapai main goal (cita-cita) itu harus punya sub-goals yang spesifik dan nyata. Jadi, nggak ada itu namanya statement, “Pokoknya gue mau bisnis gimanaoun caranya.” Yang sebenernya kamu masih bingung caranya. Lebih baik ketika kamu sudah punya keinginan, tau sasarannya dan bagaimana cara menjalankannya.

Memang butuh waktu, survey, dan pengumpulan data untuk tau caranya untuk menentukan sub-goals dan mencapai main goal. Semuanya butuh proses yang hitungannya tahun, bukan hanya berbulan-bulan. Tapi ya namanya proses belajar ya. Kita aja belajar akademis belasan tahun supaya katanya jadi sukses. Masa sih, untuk perencanaan hidup aja nggak mau nikmatin proses belasan tahun juga. Padahal output-nya sama, biar sukses. 

Aku pribadi, menemukan kemudahan dalam merealisasikan mimpi aku ketika sudah menulis pohon kehidupan ini. Kalau melenceng sedikit, punya pedoman yang dilihat supaya kembali ke jalan yang benar. Kalau bingung selanjutnya harus ngapain, lihat lagi ke perencanaan hidupnya, setelah itu ingat lagi apa yang mau dikerjakan dan bagaimana caranya. Pun kalau merasa mustahil dan cape, melihat pohon kehidupannya jadi semangat lagi karena ternyata kita sudah berhasil menjalani beberap sub-goals. Jadi termotivasi lagi untuk melanjutkan perencanaan hidup kita.

Kalau kalian sendiri bagaimana merencanakan kehidupan kariri atau lainnya? Yuk, sharing disini. 

Noted: Aku memang bukan/belum ahli, tapi hanya berbagi apa yang aku pelajari, baca, dan ketahui. 😊

Artia

Journals

Aku pulang. Lima tahun lalu tempat ini menjadi tempat yang paling berharga dan selalu dirindukan. Tempat paling nyaman setelah penat dengan kantor, dengan kesibukan sana-sini. Inilah tempat aku pulang yang paling nyaman. Seperti sekarang. Setelah lima tahun, akupun pulang.

Semuanya masih sama seperti dulu terakhir aku tinggal. Pesan yang kumandatkan kepada Bi Sina dilaksanakan dengan baik. Aku bisa melihat rumah ini lagi dengan tersenyum.

“Non sekarang lebih seger ya keliatannya. Tambah cantik, tambah ayu.” Sanjung Bi Sina yang menyambutku saat membukakan pintu.
“Non, maaf Bibi numpang tanya…”
Aku menoleh. “Apa bener rumah ini mau dijual?” Tanya Bi Sina dengan hati-hati. Aku hanya mengangguk, lalu pergi.
Dulu, rumah ini ramai walaupun hanya diisi empat orang. Aku, Bi Sina, Almarhum suamiku, dan Almarhum anakku. Sekarang, setelah aku pulang, penghuninya hanya aku dan Bi Sina. Aku pikir, aku bisa pindah ke rumah yang lebih kecil, namun Bi Sina akan tetap denganku.

Tidak ada kata siap untuk menghadapi kehilangan, dan aku pergi untuk menghadapi kehilangan. Inggris menjadi tempatku melarikan diri. Alih-alih mengambil studi, aku pergi untuk menenangkan diri.

Enam tahun lalu kecelakaan menimpa suami dan anakku. Mobil yang suamiku kendarai terhempas saat truk besar melaju kencang dan kehilangan kendali.
Dan semuanya terlalu tiba-tiba. Bagaimana aku bisa menghadapi rasakehilanganku terhadap dua orang sekaligus.

“Welcome home, Artia!”
“Hey!”
“How are you?”
“Better than before.”
“So happy to hear that. Jadi rencananya mau ada kegiatan apa setelah balik lagi ke Indonesia?”
“Belum tau, Var. Sejauh ini masih pengin jalan-jalan. Oiya, mau minum apa?”
“Kopi aja. Thanks ya!”
“Oke. Bentar, ya. Duduk dulu aja.”

Vardan. Sahabat suamiku yang sekarang menjadi sahabatku juga. Orang yang paling mengerti bahwa enam tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dinikmati sebagai proses penerimaan atas kehilanganku. Proses yang membuat aku bisa berkata, “Aku udah ikhlas.” Tanpa menangis, tanpa merenung, tanpa merasa sedih lagi.

“Kalau kamu belum ada agenda, ada tempat di Jogja yang sangat aku rekomendasikan ke kamu.” Vardan melanjutkan obrolan.
“Tempat apa itu?”
“Yang penting kamu merasa siap aja dulu. Kapan kamu siap, langsung aku antar.”
“Tapikan aku pengin tau aku disana mau ngapain.”
“Kalau kamu bilang iya, aku jelasin apa yang perlu kamu bawa dan berapa lama kamu disana. Soal ngapainnya, nanti kamu yang alamin sendiri. Kamu percaya akukan?”
“Sejauh ini sih, kamu nggak pernah melakukan sesuatu yang membahayakan.”
“That’s why.”

Bersambung…

Kita

Journals

Kami ada dalam satu rumah yang sama.
Bertumbuh dan menjadi dewasa setiap harinya, bersama.
Dengan ribuan peluk cium tawa tangis kemesraan kemarahan. Kami ada, bersama.
Didalam rumah ini seolah kami berkaca, seolah memiliki bayangan yang nyata. Uniknya, bayangan ini kadang punya perbedaan.
Ini adalah hubungan timbal balik.
Bekerja sama untuk harmoni.
Kami adalah satu, seperti rumah ini yang awalnya bahan-bahan terpisah. Sekarang, kami adalah kesatuan.
Pikiranku pikirannya, langkahku langkahnya.
Dengan segenap rasa, inilah kami dalam rumah ini, bersama, siap melalui anugerah Tuhan tanpa jeda.
Merasakan keindahan berbagi dan mencintai.
Untuk kepercayaan, untuk masa depan, dan untuk kita.

AQUA

Journals

Yang aku bayangkan sekarang adalah, berada di sebuah rumah kayu dengan wangi bunga. Terletak di pinggir pantai yang sepi dengan pasir putih dan laut biru muda bening, sesekali bisa tampak warna-warni karena dasar laut yang marak terumbu karang. Duduk di serambi belakang rumah dan hanya memandangi laut yang selalu dinamis. Menikmati semilir angin sejuk, dilengkapi dengan aroma segelas kopi hitam yang pekat dan hangat. Pahit dan manisnya seimbang. Berbusa. Atau sesekali menghirup aroma asinnya laut yang teduh sambil meraba pasir yang bisa terjamah kaki.

Dalam hening itu, aku hanya mendengar suara angin, air laut, burung.

Diam.

Dipejamkan mata, dan yang bisa kudengar hanya suara-suara itu. Kubuka lagi mata. Dan lukisan alam itu terbentang. Rasanya seperti memandangi lukisan dalam film Harry Potter yang selalu bergerak berulang.

Di tempat itu hanya ada kamu sendiri, dengan imajinasi dan pikiran yang entah lari kemana-mana tidak menentu. Kadang tertawa sendiri atau menitikkan air mata. Semua memori itu, sekarang hanya tersimpan dalam otak dan tidak akan pernah kembali terjadi.

Dulu, aku sangat menantikan momen ini. Dimana tidak ada komentar orang-orang jahil yang hanya bisa berbicara, tanpa bisa mengerti.

Dulu, aku sangat menantikan momen ini. Dimana hanya ada aku dan semesta, tidak ada orang lain yang perlu aku urusi segala perbendaharaannya.

Dulu, aku sangat menantikan momen ini. Dimana tidak perlu ada timbal balik antara aku dan siapapun. Hanya timbal balik antara aku dan apapun yang ada disekelilingku. Terkadang berhubungan dengan mahluk yang tidak bisa berbicara itu lebih menguntungkan dibanding mereka yang lihai berbicara namun hanya memanaskan telinga.

Dulu, aku sangat menantikan momen ini. Dimana yang ada di bayanganku adalah damai. Sendiri. Sepi

IMG_3800

Bahagia :)

Journals

Kita tidak akan tahu sampai kapan kita akan merasa bosan dengan…
hangatnya berpelukan ketika tidur malam atau nikmatnya ciuman di pagi hari
segelas teh atau kopi hangat yang melegakan, serta roti isi selai yang penuh gizi
tawa dan obrolan bersama ketika sarapan, dan kesibukan mau pergi bekerja.
Semua itu seakan rutinitas yang tidak akan pernah berakhir.
Dan menghadiahi diri untuk menghabiskan waktu berdua di akhir pekan.
Tidur sampai kenyang. Menonton film favorit. Berkaraoke seakan rumah adalah panggung konser penuh penggemar.
Bahagia 🙂