Doa kami

Bismillahirrahmanirrahim..

Untuk malam yang kedinginan, aku berdoa padaMu untuk mendatangkan yang hangat bagi tidur kami

Untuk hari-hari yang penuh godaan, aku berdoa padaMu kiranya Engkau memberi kami keyakinan agar tetap teguh melihat kuasaMu

Untuk segala niat yang kami ucapkan hanya atas namaMu, aku berdoa, pada dzat yang Maha Mengetahui niat kami, pada dzat yang lebih dekat dari urat nadi kami, pada dzat yang Maha Besar melebihi apa yang ada di bumi dan di langit, kami memohon ketulusanmu untuk menerima segala ibadah kami. Agar benar. Agar tersampaikan tujuan kami. Hanya kepadaMu.

Sesungguhnya kami adalah hamba yang berserah hanya kepadaMu saja. Bahwa kuasaMu tiada lain adalah berkah bagi kami.

Allah…

Pelajaran Menghargai

Mungkin sudah jadi hal biasa untuk orang-orang asia, masalah yang dialami adalah soal menghargai. 

Waktu itu ada diskusi di sekolah yang membahas bedanya budaya Asia dan budaya Barat. Perbedaannya ada di perilaku menghargai. Kalau budaya Barat lebih suka pendekatan apresiasi, sementara budaya Asia seperti gengsi untuk mengapresiasi. Dan memang rasanya benar juga.

Perilaku ini terjadi turun-temurun, membentuk pola, dan akhirnya terus terjadi tanpa putus karena bagian dari kebiasaan hidup. Soal menghargai.

Pertama, menurut saya ini masalah yang biasa dilihat kecil, tapi jika dibiarkan, ini akan jadi sesuatu yang besar.

Suatu hari, salah satu murid saya ingin membawa buah apel yang sudah dipotong tanpa dikupas. Biasanya, dia membawa buah apel yang sudah dikupas setiap hari, namun pagi itu, dia sampai nangis ingin mengganti apel yang sudah dibawanya ke sekolah dengan apel yang masih ada kulitnya, karena melihat pengasuhnya memakan satu potong apel tanpa mengupas kulitnya.

Dia menangis dan menuntut pengasuhnya untuk mengganti apel yang sudah dia bawa. Mengganti dengan yang baru, sudah dipotong namun tidak dikupas.

Saya dan partner menganjurkan pengasuhnya untuk berlaku biasa saja. Dalam artian, anak ini sudah sampai sekolah, tidak usah membawa apel yang baru, biar kita yang membujuk anak ini.

Saya pribadi merasa jengkel, karena pada akhirnya, pengasuhnya tetap membawakan apel yang baru. Jadi, dia membeli apel yang baru di toko buah terdekat demi memenuhi permintaan murid saya.

Mungkin, dilihat secara sederhana, ada yang merasa kasihan dengan murid saya. Sama seperti yang pengasuhnya rasakan. Jadi mau tidak mau, harus dibelikan yang baru, daripada tidak dimakan. Ujung-ujungnya malah membuang makanan.

Tapi saya dan partner saya merasa, hal ini berlebihan, dan anak ini harus belajar bagaimana cara menghargai orang lain. Membedakan keinginan dan kebutuhan. Lagi pula, dalam kehidupan nyata, tidak semua keinginan dapat dikabul begitu saja.

Lalu kami mengajak murid saya mengobrol. Membandingkan dua apel yang berbeda, dan memakan dua-duanya. Apa yang berbeda dari apel tersebut? Yang satu dikupas, yang satu dengan kulitnya. Apa persamaan dari apel tersebut? Sama-sama enak dimakan. Dan murid saya memakan dua apel yang berbeda, tapi tidak habis. Terlalu banyak dan terlalu kenyang. Akhirnya, dibuang lagi. Atau, disimpan dulu di tempat bekalnya. Mungkin dimakan lagi setelah sekolah.

Tapi terlepas dari habis atau tidaknya apel itu, ada orang yang sudah bangun pagi-pagi dan menyiapkan apel sampai dicuci bersih, dipotong rapi, dikupas kulitnya. Kemudian sampai di sekolah, orang tersebut mencari lagi apel lain dengan keadaan berbeda demi memenuhi permintaan murid saya. 

Dari situ saya tanya murid, “Bagaimana kalau kamu sudah membuat satu karya untuk saya, kemudian saya bilang, saya nggak mau, buatkan yang lain, saya tidak suka yang seperti ini. Kamu suka nggak?”

Dan murid saya menggeleng, “I feel sad if you say like that, I don’t want to make the new one.”

Dan saya bilang, “Ya sama, your nanny may feel hurt when you asked her to find another apple. While your nanny actually already prepared the other one. You said to me that the apples have the same taste. It means you like both, you ate some of them. So do you need to ask your nanny to buy another apple for you?”

He said no.

Ini salah satu contoh saja, masih ada yang lain lagi, dan mungkin diantara kalian semua juga memiliki cerita yang berbeda dalam soal menghargai-dihargai. 

Kenapa kalau menurut saya ini menjadi masalah serius, karena kebiasaan.

Sesuatu yang terus dibiasakan akan menjadi bagian dari pola hidup yang sulit diperbaiki. Daripada nanti lebih sulit diperbaiki, lebih baik dari sekarang kita biasakan. 

Di sekolah, saya selalu diajarkan untuk menggunakan kata “tolong” dan “terimakasih”. Ketika mereka mendengarkan, saya bisa bilang, “Thank you for listening to me.” Ketika saya minta tolong kepada murid saya untuk duduk, saya bisa bilang, “Thank you for sitting down on your place.” Dan itu lebih ampuh untuk menarik perhatian anak-anak lain untuk duduk lebih cepat, dibandingkan marah-marah.

Saya juga melihat senior saya di sekolah mengaplikasikan hal ini. Saya baru dalam dunia pendidikan, masih belajar untuk berlaku lebih baik lagi kepada murid-murid saya. 😊😊😊

Hello 2017!

Hello 2017, udah lama sekali aku nggak post apapun di blog ini. Mau ngucapin selamat tahun baru! Bagaimana dengan resolusi tahun ini? Sudah ada rencanakah?
Awal tahun ini, aku banyak dengar cerita tentang rencana hidup teman-teman aku. Ada yang mau berbisnis, ada yang mau menikah, ada yang mau sekolah lagi. Atau hanya melanjutkan hidup saja, tapi ingin travelling kemana-mana. Tapi banyak juga yang tanya soal, “Bagaimana realisasinya?” Terutama untuk perencanaan besar seperti menikah dan sekolah lagi.

Well, menikah bukan hanya sekedar nafsu. Dan sekolah juga bukan hanya sekedar menuntut ilmu. Life must go on to the next level, closer to your real goal, real dream

Aku merasa beruntung karena di akhir tingkat perkuliahan memilih kuliah yang namanya bimbingan karir (kurang lebih itu namanya). Waktu itu tugas akhir kuliahnya adalah merancang kehidupan sampai waktunya pensiun, di usia berapapun yang kamu mau sampai memutuskan untuk menikmati hidup, berhenti bekerja, menikmati masa tua. 

Banyak banget mahasiswa yang bingung, termasuk aku. Kita hanya tau cita-cita kita apa, tapi masih bingung tahap-tahap apa yang harus kita ambil supaya cita-cita kita tercapai. Itulah kenapa, sebelum tugas akhir itu diberikan, materi kuliah kita berkutat seputar teori karir, tes minat dan bakat, serba-serbi dunia pekerjaan, sampai menghadirkan pembicara yang berbagi soal caranya survive berkarir dengan pilihannya sendiri. 

Singkat cerita, saking bingungnya mahasiswa, kita semua punya beberapa kali sesi bimbingan supaya jalan menuju cita-cita kita itu cukup spesifik dan cukup real untuk dicapai. Bimbingan tersebut sudah termasuk mempertimbangkan risiko dan rencana cadangan kalau memang pada akhirnya tahap yang kita lakukan itu gagal. Karena pada kenyataannya, walaupun sudah direncanakan, kita tetep nggak taukan apa yang akan terjadi di masa depan? Yang kita bisa lakukan hanya prediksi.

Mungkin bingung kali ya kalau aku ceritakan seperti ini. Tapi cara ini bener-bener berguna dan aku pakai sampai sekarang, dua tahun pasca kelulusan.

Untuk mempermudah, aku gambar bagan perencanaan hidup. 

Pertama, ada baiknya kamu tau cita-cita kamu apa. Misalnya, aku mau jadi pebisnis. Banyak banget orang yang bilang sama aku mau jadi pebisnis, dan mereka belum tau mau bisnis apa. Berangkat dari hal yang kamu suka dulu deh. Biar menyenangkan.

Aku pribadi, mau juga jadi pebisnis di bidang pendidikan. Aku mau buka sekolah, spesifiknya pre-school & kindergarten. Kenapa? Karena aku suka anak-anak.

Maka dari itu, sewaktu kuliah, aku pilih psikologi pendidikan sebagai peminatan, magang di pre-school & kindergarten, sekarang juga bekerja di pre-school & kindergarten, akan berencana untuk mengambil magister di bidang pendidikan, dan bekerja lagi di bidang pendidikan sampai tabungan materi (finansial & pengetahuan) cukup untuk membangun sekolah.

Sebenarnya, bikin bagan seperti ini juga biasanya kita terapkan kalau lagi belajar sebelum ujian dulu. Untuk kalian yang masih jadi pelajar atau mahasiswa, mungkin sering pakai carai ini sebagai metode belajar. Nah, bagan ini juga sebaiknya diterapkan buat perencanaan hidup. Bukan hanya urusan akademis. Toh hidup juga belajarkan? Hanya beda konten.

Bagan ini juga disesuaikan sama metode belajar. Kalau lebih suka gambar atau lebih ke metode visual, biasanya lebih suka bikin mind map, sungai kehidupan, pohon kehidupan, dan lainnya yang kontennya itu digambar (jadi pakai simbol) kalau mau kuliah lagi simbolnya buku misalnya.

Nah, kalau aku termasuk metode belajar kinestetik. Aku suka nulis dan lebih suka bergerak. Apa yang aku pikirkan, akan aku tuangkan dalam tulisan. Kan menulis juga bergerak. Dulu juga waktu aku belajar semasa kuliah, aku akan buat rangkuman, padahal baca juga cukup, tapi akan lebih mengerti kalau aku menulis atau menjelaskan. Karena ketika aku menulis dan menjelaskan juga kan ada pergerakan. Intinya memang nggak bisa diem aja anaknya. 

Kalau kalian gimana? 

Dosenku dulu bilang, untuk mencapai main goal (cita-cita) itu harus punya sub-goals yang spesifik dan nyata. Jadi, nggak ada itu namanya statement, “Pokoknya gue mau bisnis gimanaoun caranya.” Yang sebenernya kamu masih bingung caranya. Lebih baik ketika kamu sudah punya keinginan, tau sasarannya dan bagaimana cara menjalankannya.

Memang butuh waktu, survey, dan pengumpulan data untuk tau caranya untuk menentukan sub-goals dan mencapai main goal. Semuanya butuh proses yang hitungannya tahun, bukan hanya berbulan-bulan. Tapi ya namanya proses belajar ya. Kita aja belajar akademis belasan tahun supaya katanya jadi sukses. Masa sih, untuk perencanaan hidup aja nggak mau nikmatin proses belasan tahun juga. Padahal output-nya sama, biar sukses. 

Aku pribadi, menemukan kemudahan dalam merealisasikan mimpi aku ketika sudah menulis pohon kehidupan ini. Kalau melenceng sedikit, punya pedoman yang dilihat supaya kembali ke jalan yang benar. Kalau bingung selanjutnya harus ngapain, lihat lagi ke perencanaan hidupnya, setelah itu ingat lagi apa yang mau dikerjakan dan bagaimana caranya. Pun kalau merasa mustahil dan cape, melihat pohon kehidupannya jadi semangat lagi karena ternyata kita sudah berhasil menjalani beberap sub-goals. Jadi termotivasi lagi untuk melanjutkan perencanaan hidup kita.

Kalau kalian sendiri bagaimana merencanakan kehidupan kariri atau lainnya? Yuk, sharing disini. 

Noted: Aku memang bukan/belum ahli, tapi hanya berbagi apa yang aku pelajari, baca, dan ketahui. 😊

Artia

Aku pulang. Lima tahun lalu tempat ini menjadi tempat yang paling berharga dan selalu dirindukan. Tempat paling nyaman setelah penat dengan kantor, dengan kesibukan sana-sini. Inilah tempat aku pulang yang paling nyaman. Seperti sekarang. Setelah lima tahun, akupun pulang.

Semuanya masih sama seperti dulu terakhir aku tinggal. Pesan yang kumandatkan kepada Bi Sina dilaksanakan dengan baik. Aku bisa melihat rumah ini lagi dengan tersenyum.

“Non sekarang lebih seger ya keliatannya. Tambah cantik, tambah ayu.” Sanjung Bi Sina yang menyambutku saat membukakan pintu.
“Non, maaf Bibi numpang tanya…”
Aku menoleh. “Apa bener rumah ini mau dijual?” Tanya Bi Sina dengan hati-hati. Aku hanya mengangguk, lalu pergi.
Dulu, rumah ini ramai walaupun hanya diisi empat orang. Aku, Bi Sina, Almarhum suamiku, dan Almarhum anakku. Sekarang, setelah aku pulang, penghuninya hanya aku dan Bi Sina. Aku pikir, aku bisa pindah ke rumah yang lebih kecil, namun Bi Sina akan tetap denganku.

Tidak ada kata siap untuk menghadapi kehilangan, dan aku pergi untuk menghadapi kehilangan. Inggris menjadi tempatku melarikan diri. Alih-alih mengambil studi, aku pergi untuk menenangkan diri.

Enam tahun lalu kecelakaan menimpa suami dan anakku. Mobil yang suamiku kendarai terhempas saat truk besar melaju kencang dan kehilangan kendali.
Dan semuanya terlalu tiba-tiba. Bagaimana aku bisa menghadapi rasakehilanganku terhadap dua orang sekaligus.

“Welcome home, Artia!”
“Hey!”
“How are you?”
“Better than before.”
“So happy to hear that. Jadi rencananya mau ada kegiatan apa setelah balik lagi ke Indonesia?”
“Belum tau, Var. Sejauh ini masih pengin jalan-jalan. Oiya, mau minum apa?”
“Kopi aja. Thanks ya!”
“Oke. Bentar, ya. Duduk dulu aja.”

Vardan. Sahabat suamiku yang sekarang menjadi sahabatku juga. Orang yang paling mengerti bahwa enam tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dinikmati sebagai proses penerimaan atas kehilanganku. Proses yang membuat aku bisa berkata, “Aku udah ikhlas.” Tanpa menangis, tanpa merenung, tanpa merasa sedih lagi.

“Kalau kamu belum ada agenda, ada tempat di Jogja yang sangat aku rekomendasikan ke kamu.” Vardan melanjutkan obrolan.
“Tempat apa itu?”
“Yang penting kamu merasa siap aja dulu. Kapan kamu siap, langsung aku antar.”
“Tapikan aku pengin tau aku disana mau ngapain.”
“Kalau kamu bilang iya, aku jelasin apa yang perlu kamu bawa dan berapa lama kamu disana. Soal ngapainnya, nanti kamu yang alamin sendiri. Kamu percaya akukan?”
“Sejauh ini sih, kamu nggak pernah melakukan sesuatu yang membahayakan.”
“That’s why.”

Bersambung…

Kita

Kami ada dalam satu rumah yang sama.
Bertumbuh dan menjadi dewasa setiap harinya, bersama.
Dengan ribuan peluk cium tawa tangis kemesraan kemarahan. Kami ada, bersama.
Didalam rumah ini seolah kami berkaca, seolah memiliki bayangan yang nyata. Uniknya, bayangan ini kadang punya perbedaan.
Ini adalah hubungan timbal balik.
Bekerja sama untuk harmoni.
Kami adalah satu, seperti rumah ini yang awalnya bahan-bahan terpisah. Sekarang, kami adalah kesatuan.
Pikiranku pikirannya, langkahku langkahnya.
Dengan segenap rasa, inilah kami dalam rumah ini, bersama, siap melalui anugerah Tuhan tanpa jeda.
Merasakan keindahan berbagi dan mencintai.
Untuk kepercayaan, untuk masa depan, dan untuk kita.

AQUA

Yang aku bayangkan sekarang adalah, berada di sebuah rumah kayu dengan wangi bunga. Terletak di pinggir pantai yang sepi dengan pasir putih dan laut biru muda bening, sesekali bisa tampak warna-warni karena dasar laut yang marak terumbu karang. Duduk di serambi belakang rumah dan hanya memandangi laut yang selalu dinamis. Menikmati semilir angin sejuk, dilengkapi dengan aroma segelas kopi hitam yang pekat dan hangat. Pahit dan manisnya seimbang. Berbusa. Atau sesekali menghirup aroma asinnya laut yang teduh sambil meraba pasir yang bisa terjamah kaki.

Dalam hening itu, aku hanya mendengar suara angin, air laut, burung.

Diam.

Dipejamkan mata, dan yang bisa kudengar hanya suara-suara itu. Kubuka lagi mata. Dan lukisan alam itu terbentang. Rasanya seperti memandangi lukisan dalam film Harry Potter yang selalu bergerak berulang.

Di tempat itu hanya ada kamu sendiri, dengan imajinasi dan pikiran yang entah lari kemana-mana tidak menentu. Kadang tertawa sendiri atau menitikkan air mata. Semua memori itu, sekarang hanya tersimpan dalam otak dan tidak akan pernah kembali terjadi.

Dulu, aku sangat menantikan momen ini. Dimana tidak ada komentar orang-orang jahil yang hanya bisa berbicara, tanpa bisa mengerti.

Dulu, aku sangat menantikan momen ini. Dimana hanya ada aku dan semesta, tidak ada orang lain yang perlu aku urusi segala perbendaharaannya.

Dulu, aku sangat menantikan momen ini. Dimana tidak perlu ada timbal balik antara aku dan siapapun. Hanya timbal balik antara aku dan apapun yang ada disekelilingku. Terkadang berhubungan dengan mahluk yang tidak bisa berbicara itu lebih menguntungkan dibanding mereka yang lihai berbicara namun hanya memanaskan telinga.

Dulu, aku sangat menantikan momen ini. Dimana yang ada di bayanganku adalah damai. Sendiri. Sepi

IMG_3800

Bahagia :)

Kita tidak akan tahu sampai kapan kita akan merasa bosan dengan…
hangatnya berpelukan ketika tidur malam atau nikmatnya ciuman di pagi hari
segelas teh atau kopi hangat yang melegakan, serta roti isi selai yang penuh gizi
tawa dan obrolan bersama ketika sarapan, dan kesibukan mau pergi bekerja.
Semua itu seakan rutinitas yang tidak akan pernah berakhir.
Dan menghadiahi diri untuk menghabiskan waktu berdua di akhir pekan.
Tidur sampai kenyang. Menonton film favorit. Berkaraoke seakan rumah adalah panggung konser penuh penggemar.
Bahagia 🙂